PERATURAN JALAN PAK POLISI

22.34 0 Comments A+ a-

Hari ini aku senang sekali. Hari ini adalah hari sabtu dan papa bilang akan membawa mama, aku, dan adikku pergi berjalan-jalan. Papa dan mama sibuk sekali, terkadang papa bekerja setiap hari, tapi terkadang papa dirumah seharian. Kalau mama bekerja setiap hari senin sampai jumat, setiap hari aku berangkat sekolah diantar oleh mama. Tapi kalau papa tidak bekerja, aku diantar dan dijemput oleh papa.
Setelah 14 malam papa tidak dirumah, papa pulang dan mengajak kami berjalan-jalan. Iya, aku menghitungnya. Aku selalu menghitung hari papa pergi, karena aku sangat merindukannya. Papaku itu sangat lucu, dan pandai membacakan cerita. Kalau papa dirumah, papa selalu membacakan cerita sebelum aku tidur.
“Tania, Nania, ayo, berangkat!” panggil papa.
“Iya” sahut aku dan adikku.
Kami mengenakan tas kami. Mama dan papa membawa tas ditangan mereka. Kami berempat menaiki mobil dan pergi menuju tempat yang kami tuju. Aku dan adikku sangat senang. Disepanjang jalan kami bernyanyi.
“Wah, polisi!” adikku berteriak tiba-tiba sambil menunjuk ke arah luar jendela.
“Peluit polisi priiiiit. Dan kamu ditangkap, hahaha” ujarku.
“Polisi menangkap orang jahat” kata adikku.
Papa dan mama tertawa.
“Waah, Tania Nania pintar sekali. Darimana kalian tahu polisi menangkap orang jahat?” tanya ibu.
“Bu guru bilang, tugas polisi menangkap orang jahat” jawabku.
Mobil kami berhenti sejenak karena didepan mobil kami ada mobil lain berhenti. Dari kaca mobilku, terdapat mobil dan motor polisi sedang parkir. Dua orang polisi duduk dibelakang mobil polisinya. Salah seorang diantaranya mengenakan helm. Mereka memperhatikan jalanan. Lalu polisi yang tidak mengenakan helm meniup peluitnya dan menunjuk kearah sebuah kendaraan. Polisi yang mengenakan helm segera menaiki motornya dan pergi. Tidak lama kemudian polisi bermotor itu kembali dengan diikuti sebuah mobil berwarna putih.
“Pa, kenapa polisinya meniup peluit pa? Kenapa mobil putihnya dikejar? Apa dia penjahat?”tanyaku.
“Mobil putihnya bukan penjahat Tania, mobil putihnya hanya berbuat salah. ” jawab papa.
“Berbuat salah apa? Jadi kalau Tania Nania bikin salah juga ditangkap polisi?” wah, ini mengerikan! Untung didekat rumahku tidak ada polisi.
“Nania ga mau ditangkap polisi, huwaaa” adikku mulai menangis.
“Nania ga akan ditangkap. Polisi ga ada didekat rumah kita” kataku sambil menepuk tangannya. Adikku memang mudah menangis.
“Hahaha” kudengar papa dan mama tertawa.
“Bukan begitu Nania, mobil putihnya ditangkap karena melanggar peraturan polisi. Karena mobil putihnya melanggar, jadi dihukum polisi.” Jelas ibuku.
“Jadi, kalau Tania dan Nania tidak mau dihukum polisi, jangan melanggar aturan polisi yaa” kata papa.
“Iya”
Adikku sudah berhenti menangis dan tertidur karena lelah. Aku hanya melihat ke jendela kaca mobil. Diluar ada banyak sekali benda. Pohon, pohon, apa itu? Pohon, pohon, ada juga benda seperti kotak yang besar. Mobil kami kemudian melewati sebuah pagar besar dan disana ada rumah yang sangat besar.
Papa memarkir mobil dan mama menurunkan kami dari mobil. Nania masih sedikit mengantuk jadi mama menggendongnya, sedangkan aku sudah tidak sabar untuk segera masuk. Rumahnya besar sekali. Atapnya berwarna biru, dan atapnya ada dua, ditengah dan diatas tidak seperti rumahku yang hanya  punya satu atap berwarna merah. Didalam pasti luas sekali.
Kami berjalan menuju pintu, tapi saat akan masuk papa menghentikanku.
“Tania sini, tulis nama dulu”
Aku mengambil pensil dan menuliskan namaku dan Nania sedangkan papa menuliskan nama papa dan mama. Kami kemudian mendapatkan kalung dari tali dengan kertas bertuliskan namaku, nama Nania, nama Papa, dan nama Mama. Kami juga mendapatkan kertas masing-masing, papa bilang itu namanya tiket. Kami berjalan menuju pintu dan kertas tadi kami berikan pada Pak penjaga pintu.
“Terima kasih” kata Pak itu. Kemudian mengembalikan tiketnya pada kami.”Ini Pak Polisi. Pak Polisi ini akan mengajarkan kita peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar pada saat menaiki mobil, motor, atau berjalan kaki.” Pak Polisi itu mengenakan pakaian yang sama seperti polisi yang menangkap mobil putih tadi pagi.
“Selamat pagi Pak Polisi” aku harus bersikap baik. Aku tidak ingin ditangkap, pikirku.
“Anak pintar. Ayo Nania juga.” Mama menurunkan Nania dari gendongannya.
“Selamat pagi Pak Polisi”
“Selamat pagi juga Tania dan Nania. Sudah tahu belum kita disini mau apa?” tanya Pak Polisi.
Kami menggelengkan kepala.
“Disini kita mau belajar tata cara jadi pengendara dan pejalan kaki yang baik. Sekarang siapa yang mau naik kendaraan siapa yg mau jalan kaki?”
“Aku mau naik motor!” kata adikku.
“Kalo Nania naik motor, Tania mau jalan kaki?” tanya Pak Polisi padaku, meyakinkan. Aku menggangguk.
“Kalau begitu Nania sini, motornya pakai yang ini ya..”Pak Polisi menunjuk barisan motor kecil berwarna-warni. Nania memilih motor warna kuning menaikinya dengan gembira. Pak polisi menyalakan motornya dan mengajari Nania cara mengendarainya. Setelah beberapa kali mencoba, Nania sudah bisa berjalan lurus dan mengerem. Sepertinya menyenangkan, aku harus mencobanya setelah ini.
Pak polisi dan Nania kembali ke tempat kami. Nania kembali dengan menaiki motornya.
“Sekarang ikuti dan perhatikan Bapak ya. Kalau kita jalan kaki, dimana kita harusnya berjalan? Ada yang tahu?” tanya Pak Polisi.
“Disini” jawabku sambil menunjuk jalan yang paling besar.
“Bukan disini?” tanya Pak Polisi sambil menunjuk jalan kecil disebelah kiri. Aku bingung.
“Tania, Nania, jadi jalan itu dibagi jadi tiga. Jalan sebelah kanan, tengah, dan kiri. Jalan yang ditengah, yang paling besar, itu untuk mobil, motor, dan bus.” Jelas Pak Polisi “Nah, kalo Tania, Papa, Mama, dan Pak Polisi mau jalan kaki, jalannya dimana?”
“Di sebelah kiri, Pak” jawabku.
“Iya, pintar!” puji Pak Polisi.
“Kalau gitu Nania jalan di jalan yang besar ya Pak Polisi?” tanya Nania.
“Iya, Nania.” Mendengar jawaban Pak Polisi, Nania segera mengarahkan motornya ke jalur di jalan yang besar.
Aku pun memimpin jalan melalui jalan disebelah kiri dan Nania mengendarai motornya perlahan, menjejeri kami. Kami terus berjalan hingga jalan kecil itu berbelok ke kiri dan berakhir di tembok yang dilukis menyerupai jalan. Jadi untuk melanjutkan perjalanan kita harus jalan lurus ke depan atau berbelok ke kanan.. Aku dan Nania berhenti, bingung apa yang harus dilakukan. Pak Polisi pun bertanya;
“Kalau sudah sampai disini, kita harus kemana?”
“Kesana” aku dan Nania menjawab sambil menunjuk ke arah jalan kecil diseberang dengan mantap.
“Kalau mau kesana gimana caranya? Ada yang tahu?” tanya Pak Polisi lagi.
Aku dan Nania menggelengkan kepala. Pak polisi kemudian melangkah ke depan kami dan menunjuk sebuah tiang dengan tiga buah lampu berwarna merah, kuning, dan hijau.
“Kalau kita mau menyeberang, kita harus memperhatikan lampu ini. Namanya lampu lalu lintas.” Kata Pak Polisi, menjelaskan. ”Namanya apa?”
“Lampu lalu lintas!!” teriakku dan Nania.
“Kalau hijau, artinya kendaraan boleh jalan. Kalau kuning artinya hati-hati, merah artinya harus berhenti. Kalau mobilnya lagi jalan kita boleh menyeberang ga?” tanya Pak Polisi.
“Tidak, nanti sakit” kata Nania.
“Benar. Jadi kalau lampunya hijau kita harus menunggu disini. Lihat, lampunya hijau ya, kalau hijau berarti Nania ngapain?”
“Nania boleh jalan” jawab Nania.
“Ya!. Kalo Nania jalan, berarti kita nung...”
“Nungguuu!!!” teriakku.
“Nah, habis hijau itu lampu kuning, kalau kuning artinya siap-siap. Jadi motor harus berjalan pelan-pelan karena sebentar lagi harus berhenti. Kalau lampunya kuning, kita boleh jalan ga??” tanya Pak Polisi lagi.
“Tidak boleh” jawabku yakin.
“Nah, habis lampu kuning,, gantian lampu merah yang nyala, lihat.” Lampu kuning yang tadi menyala padam, berganti lampu merah yang menyala.”Kalau lampu merahnya yang nyala, artinya mobil harus berhenti. Kalo mobilnya sudah berhenti boleh jalan ga?”
“Boleeehh!!!” sahut kami.
“Nah, sekarang kita coba praktekkan lagi ya dari sana. Tania sama Nania masih ingat kan yang tadi Bapak sampaikan?” tanya Pak Polisi.
“Masih, pak!” jawab kami.
Kami pun menyebrang menuju jalan didepannya dan mulai mempraktekkan semuanya dari awal. Setelah diizinkan, aku dan adikku berjalan perlahan. Terdapat dua tiang lampu lalu lintas. Tiang lampu masih menandakan warna hijau ketika kami sampai, jadi Nania berjalan terus sedangkan aku berhenti. Nania menungguku diseberang jalan hingga lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah dan aku menyeberang. Kami pun kembali berjalan berjejeran. Kali ini ketika mendekati lampu lalu lintas lampunya berubah warna menjadi kuning. Nania yang tadinya berjalan perlahan sedikit mengencangkan kendaraannya.
Priiiiiiiiiiiiit. Pak Polisi meniup peluitnya.
Kami menatapnya. Pak Polisi menghampiri kami.
“Hayoo, ada yang ngerasa salah nggak?” tanya Pak Polisi menatap kami berdua. Kami saling menatap, bingung.
“Nania kenapa motornya tambah cepat waktu lampunya jadi kuning?”tanya Pak Polisi.
“Karena kalau lampu kuning biasanya motor sama mobil jalannya jadi tambah cepat Pak” jawab adikku takut-takut.
“Eh? Dimana Nania lihatnya?” tanya Pak Polisi.
“Kalau lagi nunggu dijemput pulang sekolah. Nania sama temen-temen biasanya nungguin lampu kuning, soalnya jadi kayak balapan, haha” jawab adikku polos.
“Hmm gitu. Kalo papa juga gitu?” tanya Pak Polisi.
“Hmm ga tau, soalnya Nania sama kakak kan didalem.”
“Jadi gini, kalo Nania naik kendaraan, kalo lampunya kuning, kendaraannya harus dilambatkan ya, karena kan sebentar lagi merah, kalo kendaraannya ga berhenti pelan-pelan nanti bisa jatuh terus Nania sakit. Mengerti?”
Kami mengangguk.
“Kalau begitu diulang ya dari sana,” Nania turun dari motornya, Pak Polisi lalu memindahkan motor Nania ke jalan setelah lampu lalu lintas pertama. Giliran aku yang menunggu Nania disini. Nania berjalan perlahan, begitu Nania mendekat lampu lalu lintas berubah kuning, Nania pun melambatkan motornya sesuai dengan petunjuk Pak Polisi. Tidak lama, lampu berubah merah, Nania berhenti.
 “Yee!!” Pak Polisi, Mama, dan Papa memberi kami tepuk tangan.”Pintar-pintar semua ya anaknya Pak, Bu. Nah, karena kendaraan sudah berhenti, Tania sekarang boleh menyebrang. Tania bisa menyeberang?” tanya Pak Polisi.
Aku menggeleng.
“Kalo lampunya sudah merah, Tania angkat tangan kiri keatas, terus lihat kanan kiri.” Kata Pak Polisi sambil memperagakan.“Kalau sudah tidak ada mobil dan motor, Tania boleh jalan tapi dijalan yang warnanya hitam putih ya, itu namanya Zebra Cross. Namanya apa tadi?”
“Zebra Koss” sahut kami.
“Tapi Pak, Mama, Papa, Tania, sama Nania biasanya kalau jalan nyeberang tidak di jalan hitam-putih.”tanyaku bingung. Karena Papa, Mama, Ibu Guru dan Pak Guru juga biasanya kalau menyeberang bisa dimana saja.
“Itu namanya tidak hati-hati, Tania. Di jalan besar kan banyak mobil lewat, nah, Zebra Cross ini khusus buat orang yang jalan kaki, jadi mobil bisa lebih hati-hati ketika menyetir. Tapi kalau kita tidak menyeberang di Zebra Cross, mobil bisa kurang hati-hati jadi nanti Tania bisa luka, mobilnya juga, orang lain juga. Mengerti?” jelas Pak Polisi.
“Mengerti, pak!” teriak Tania, Nania, Papa dan Mama sambil melakukan hormat.
“Mulai sekarang kami akan selalu menyeberang di Zebra Cross, pak” ujar Papa.
Pak Polisi tersenyum.
“Nah, kalau bagitu perhatikan caraPak Polisi menyeberang, ya. Pertama, perhatikan lampu lalu lintas,” lampu berganti dari hijau ke kuning lalu kuning ke merah “kalau sudah merah, angkat tangan kiri. Lalu lihat kanan-kiri,” Pak Polisi mengangkat tangan kirinya sambil melihat ke kanan dan kirinya “kalau sudah tidak ada kendaraan yang lewat baru jalan.”
Papa mengulangi gerakan Pak Polisi, kemudian aku mencoba. Kami pun sampai diseberang jalan, Pak Polisi memberi aku dan Nania pin berbentuk lambang polisi lalu lintas. Keren sekali!
“Nah, karena Tania dan Nania sudah belajar, mulai sekarang harus dipatuhi ya peraturannya, kalau tidak dipatuhi, nanti Pak Polisi hukum.” Kata Pak Polisi tegas.
“Baik, pak” jawab kami sedikit was was.
“Terima kasih, Pak. Atas bantuannya.” Ucap Papa dan Mama sambil menyalami Pak Polisi.”Nah, sekarang ayo kita makan”
Kami pun menyusuri lorong melalui jalan sebelah kiri menuju ruang khusus makan dan memakan bekal  makan yang telah dipersiapkan oleh Mama. Di tempat makan itu, ada banyak mainan, perosotan, jungkat-jungkit, mobil-mobilan, dan kita bisa makan didalam mobil. Didalam mobilnya ada meja dan kursi. Tapi aku dan Nania harus selesai makan karena Papa mengunci pintu mobilnya dan tidak akan dibuka sampai makanan kami habis.
“Tania, Nania, tadi kita baru belajar apa sama Pak Polisi?” tanya Mama.
“Peraturan Jalan Pak Polisi!!” jawab Nania dengan gembira.
“Hahaha, bukan Peraturan Jalan, tapi Peraturan Lalu Lintas” kata Mama.
“Hmm peraturan biar tidak dihukum Pak Polisi, Ma.” Candaku. Mama, Papa, dan Nania tertawa.

“Benar, benar, biar tidak dihukum Pak Polisi ya.” Ujar Papa.


****Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor danNulisbuku.com